Selasa, 03 Maret 2020


SEJARAH DESA CIANGIR
( SASAKALA DESA CIANGIR )

A. MASA PERJUANGAN
            Pada zaman dahulu kerajaan Mataram mendapat serangan dari tentara Belanda, banyak yang melarikan diri menghindari serangan tersebut, diantaranya ada seorang Petinggi kerajaan yang lari ke arah barat, karena dia tidak mau tunduk kepada Belanda, Dia seorang yang sakti, perjalanan pada waktu itu menaiki gunung, menuruni lembah dan menyusuri sungai sampai berhari-hari bahkan bermingu-minggu.
Sesudah melakukan pelarian yang lama, akhirnya sampailah di sebuah dusun yang terletak di lereng gunung sebelah timur Gunung Tilu, dusun itu bernama Cinyalung. Dusun tersebut hanya didiami oleh beberapa suhunan (rumah) saja, tetapi dia merasa tidak aman tinggal di dusun Cinyalung, karena menurut perhitungannya Belanda akan mudah menangkapnya, karena sudah tercatat sebagai buronan Belanda dengan nama Ciptanala. Kemudian Ki Ciptanala pergi dari dusun Cinyalung ke arah utara, dengan maksud ingin hidup sebagai peladang. Sesudah berjalan lama akhirnya menemukan sebuah tempat yang datar dan cocok untuk berladang.
Belanda tidak tinggal diam, setelah diketahui larinya ke arah barat maka dikirimkanlah pasukan untuk mencari buronannya yang bernama Ki Ciptanala, secara kebetulan sampailah di tempat yang  sedang dicarinya dan bertemu dengan yang dicarinya, tetapi Belanda tidak hapal rupanya, hanya tahu namanya saja, kemudian pimpinan pasukannya bertanya kepada seseorang yang sedang bekerja,

“Apakah kamu mendengar dan mengenal kepada orang yang bernama Ciptanala? Apakah ada disini ?”
“Maaf tuan saya tidak tahu dan tidak mengenalnya“, Jawab Ki Ciptanala
“Siapa namamu?”
Nama saya Ditanala dan pekerjaan saya hanya berladang.
“Kemana terusannya jalan ini ?” (sambil mencatat nama orang tersebut ).
Ke sana tuan ke selatan, jawab Ki Ciptanala.

            Belanda tidak menaruh curiga, dan terus melanjutkan perjalanan, setelah kira-kira 100 m jaraknya, dengan kesaktian Ki Ciptanala (Ditanala) ditiupnya pasukan Belanda itu dari belakang hingga mati semuanya. Ki Ciptanala berfikir, suatu saat nanti akan datang lagi pasukan Belanda yang mencarinya, maka beliau meninggalkan tempat itu kembali ke dusun Cinyalung, tetapi sebelum meninggalkannya beliau membuat ciri di tempat itu yang mirip dengan makam/kuburan. Ciri makamnya sampai sekarang masih ada dan mendapat pemeliharaan kuncen, dengan nama “Makam Sudimampir”
            Belanda di pusat merasa heran, karena pasukan yang dikirim belum kembali, maka dikirimkan lagi pasukan untuk menyusulnya. Sesudah sampai di tempat yang dituju ternyata pasukan yang dikirim sebelumnya dalam kondisi mati semua, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap mayat, ditemukan catatan nama Ditanala, akhirnya pasukan Belanda menuju dusun Cinyalung untuk mencari Ki Ditanala.
            Ki Ditanala (Ciptanala) sudah mengetahui Belanda akan datang, dia berkata pada istrinya.

“Ni ( nenek), Aku akan mencari tempat untuk sembahyang sebagai samaran“.
“Kalau Belanda datang kesini jangan diberitahukan, pura-pura tidak tahu”.

Ki Ditanala pergi kearah barat dan mencari sungai serta batu yang datar, setelah menemukan beliau melakukan sembahyang. Pasukan Belanda datang ke Cinyalung dan menemui istrinya Ki Ditanala yang sedang memanaskan bahan gula kawung, Belanda tidak bertanya langsung karena timbul rasa takut melihat istri Ki Ditanala mengaduk adonan gula yang sedang mendidih hanya menggunakan tangan saja tanpa alat pengaduk.
            Belanda meneruskan perjalanan ke arah barat dan bertemu dengan orang yang sedang sembahyang, kemudian bertanya tentang keberadaan Ki Ditanala.
           
“Tidak tahu tuan, karena saya seorang santri yang kerjaannya hanya sembahyang saja“.
“Mungkin ke arah barat“, jawab Ki Ditanala.

Belanda tidak menaruh curiga apa-apa dan meneruskan perjalanannya, setelah lewat dan kira-kira 100 meter pasukan Belanda ditiup dari belakang oleh Ki Ditanala hingga mati semua. Ki Ditanala kembali lagi ke Cinyalung dan sebelum pulang di tempat tersebut membuat lagi makam/kuburan, makam ini sampai sekarang masih ada dan dinamakan Makam Kisantri“.
            Sedatangnya di dusun Cinyalung berunding dengan istrinya dengan maksud untuk meninggalkan tempat itu, karena pasti Belanda akan menyusul kembali, sedangkan Ki Ditanala sudah merasa berat karena banyak membunuh musuh. Setalah sepakat, suatu waktu berangkat arah ke utara menuju tempat semula (Sudimampir) dan singgah dahulu disana (mampir), sebelum meninggalkan tempat itu Ki Ditanala berkata (nurunkeun basa):
Isuk jaganing geto ka anak cucu (incu) kula anu asalna ti daerah wetan (Jawa Tengah), sing saha bae anu boga kahayang datang (jaroh) ka ieu tempat (Sudimampir), tinangtu bakal diijabah sakahayangna“
            Sesudah berkata demikian, Ki Ditanala pergi ke arah barat, menetap sampai meninggalnya di Tanjungsari - Sampay Kecamatan Karangkancana.
            Setelah Ki Ditanala meninggalkan dusun Cinyalung dan Pasukan Belanda tidak datang lagi, warga suhunan (rumah) disana kehilangan Sesepuhnya kemudian ditunjuk Ki Hasanudin seorang Lebe (kiyai) di Cinyalung untuk menjadi kuwu, maka karena merangkap 2 jabatan, yaitu Lebe dan Kuwu istilahnya disebut Ki Bewu. Ki Bewu pada waktu itu sering seba ke gebang ( mengunjungi pinangeran ) dan kalau seba cukup mengendarai pelapah kelapa (baralak). Kesenian yang berkembang di Cinyalung adalah calung, gendang dan sulap. Setelah lanjut usia, kekuwuan diserahkan kepada anaknya yang bernama Maya Taruna.
            Ki Maya Taruna setelah menjadi kuwu, merencanakan akan memindahkan kampung, dicarinya tempat ke sebelah utara dan menemukan sebuah dataran yang diapit oleh dua buah anak sungai. Tempat itu penuh dengan pohon simpur, maka tempat itu dinamai Dukuh Simpur (Ciangir sekarang). Kampungpun pindah ke dukuh yang baru yang dinamai Dukuh Simpur, kemudian Ki Maya Taruna seba ke pinangeran gebang, merundingkan dan menanyakan untuk nama tempat itu. Dari gebang Ki Maya Taruna disuruh pulang, sebelum sampai di Dukuh Simpur disuruh mandi dan diangir (keramas) dahulu di anak sungai yang mengalir di sebelah barat kampung. Pada masa itu perilaku pimpinan dijadikan contoh dan banyak ditiru sehingga Dukuh Simpurpun diganti namanya menjadi Ciangir, yang berarti; “Cai tempat diangir“. Sampai sekarang di Desa Ciangir ada tanah yang bisa dipakai untuk membersihkan rambut (sampo).
            Kesenian yang sangat di gemari oleh masyarakat pada waktu itu adalah seni Calung yang dilengkapi dengan gendang dan sulap. Suatu waktu kesenian Ciangir (Calung, gendang, dan sulap) mendapat undangan dari desa Gunung Jawa Karang Kancana. Rombongan kesenian pun berangkat ke Gunung Jawa, ketika memainkan sulap, yaitu atraksi menyembelih manusia dengan diiringi gendang dan calung, ternyata kepala orang yang disembelih hilang tidak dapat ditemukan lagi. Rombongan merasa cemas, kemudian mengadakan pengumuman dan edaran, tetapi tidak ada yang mengaku berbuat curang. Setelah tidak ada yang mengaku dan tetap kepala orang yang disembelih itu tidak ditemukan, maka kepala rombongan mengeluarkan kesaktiannya, yaitu menanam biji waluh (labu), waluhpun tumbuh dan langsung berbuah, buahnya dipetik, kemudian mengadakan pengumuman; “Kepada siapa saja yang memparmainkan agar dengan segera kapala orang itu dikembalikan”, tapi tetap tidak ada yang mengaku (karena sama dengan mengadu kesaktian).
            Kepala rombongan tidak sabar, lalu waluh di belah diatas panggung, tiba-tiba orang yang mempunyai ilmu di Gunung Jawa itu (orang yang mempermainkan) kepalanya pecah, dan kepala orang yang hilang itu ada didalam gendang, kulit gendang dibuka sebelah dan orang itu hidup kembali.
            Setelah datang ke Ciangir, maka keluarlah ucapan atau wangsit dari kepala rombongan kesenian:
“Pikeun anak incu jeung turunannana di Desa Ciangir teu beunang nanggap calung jeung gegendangan anu sabeulah kulitna, sing saha anu ngarempak ieu wangsit tinangtu panggih balukar atawa kacilakaan”.
            Sampai sekarang di desa Ciangir tidak ada bedug (gendang sabeulah), boleh menabuh gendang asalkan gendangnya tertutup semua.       

……………………………………………………….…………………..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar